Ancala Murka






Sinabung terbangun dari lelapnya
Meradang, membara tak kunjung reda
Kelud mengamuk menghadirkan kalut
Marapi berapi-api

Mereka berunjuk rasa
Meledakkan jiwa-jiwa jumawa dan durjana
Menyentakkan syaraf-syaraf insyaf dari gunungan dosa dan khilaf
Meruntuhkan bongkahan hedonisme dan keakuan
Mengalunkan melodi pengundang kepedulian

Entahlah, setelah ini siapa
Apakah giliranmu Tuan Semeru?
Atau kau lagi Tuan Merapi?
Atau mungkin dikau Pangeran Krakatau?

Ancala murka
Namun tak banyak manusia yang bertanya mengapa
Apatah lagi mengarahkan telunjuk ke dadanya
Fenomena alam biasa
Kata mereka

Komentar