Mencari Nur



“Apakah aku masih hidup? Sepertinya ya. Ah, tapi mungkin juga tidak. Karena aku pun tidak tahu apakah aku masih ada di mayapada atau telah berpindah ke alam barzah. Entahlah.”
Aku beringsut. Kemudian berdiri. Hingga akhirnya kedua kakiku melangkah sedepa-sedepa. Tanganku gemetar saat mencoba meraba-raba, sekadar ingin menerka dimana aku kini berada. Namun tak ada yang bisa kusentuh apalagi kujamah. Apakah aku berada di sebuah goa yang besar? Atau mungkin juga aku sedang ada di ruang yang tak berdinding. Ah, kegelapan ini semakin lama semakin menyergap. Di saat seperti ini, hasratku untuk segera berjumpa dengan nur semakin menjadi-jadi. Nur yang terus kucari sejak aku mulai berani mempertanyakan jati diri. Nur yang ingin kugenggam setiap aku merasa kehilangan landasan. Nur yang selalu ingin kutemukan sejak aku mulai berpikir tentang kesementaraan, tentang keabadian, dan tentang Tuhan.
“Nuuuur…. Dimanakah kau? Aku mencarimu nur.”
Tak ada jawaban atas bisikanku. Suara kegundahanku serasa ditelan oleh kesunyian. Tetapi aku tak peduli.
“Nuuuur…. Dekaplah aku nur. Merasuklah ke dalam sukmaku. Aku mendambamu. Aku membutuhkanmu nur. Tolonglah aku. Ayolah nur, bimbing aku, gandeng tanganku menyusuri jalan yang seharusnya kutempuh. Keluarkan aku dari labirin kehidupan yang gulita dan tak jelas dimana ujungnya ini.  Bebaskan aku dari kehampaan. Bebaskan aku dari jerat keresahan ini,” ratapku semakin mengiba.
Lagi-lagi senyap. Tak ada yang memberi jawab. Angin asa tak lagi kurasakan belaiannya yang menyejukkan. Hingga kuputuskan untuk tak meneruskan langkah. Aku kemudian duduk bersila.
Saat aku merasa semakin kehilangan arah, mendadak sebuah titik putih tampak berpendar di depan mataku.
“Oh, benarkah yang kulihat itu? Apakah ini hanya ilusi semata? Tidak. Aku sungguh melihatnya. Ya, aku melihatnya. Ah, jangan-jangan…., itu nur yang selama ini kucari?”
Namun suasana tetap hening. Sementara titik putih itu terus menggodaku untuk mendekatinya. Bergegas aku berdiri. Tanpa rasa takut, aku mulai bergerak dengan langkah-langkah yang lebih pasti, mendekati titik putih itu.
Semakin dekat, titik putih itu kini semakin jelas terlihat kemilaunya, tak lagi samar-samar. Aku lalu berhenti sekitar dua batang tombak jaraknya dari cahaya putih di hadapanku. Tak sepatah katapun terlontar dari mulutku saat melihat pesonanya. Kemilau sinar putih itu ternyata terpancar dari tubuh seseorang yang berdiri membelakangiku. Dia berdiri sangat tenang di atas hamparan kain. Sepertinya dia tak peduli dengan kehadiranku.
“Siapa orang itu? Sedang apa dia?” gumamku sambil mengernyitkan dahi.
“Hei, tapi dari perawakannya, rasanya aku kenal."
Aku bergerak semakin mendekat, mencoba melihat sesosok manusia itu dari arah depan dia berdiri. Hingga akhirnya aku hanya bisa ternganga meski hatiku terus saja berbicara.
“Hah? Bagaimana mungkin? Mustahil. Ini mustahil. Orang ini adalah … adalah ….”
Aku benar-benar sulit mempercayai penglihatanku sendiri. Namun semuanya tampak sangat jelas. Aku melihat diriku sendiri. Ya, orang yang berdiri penuh konsentrasi dengan tangan bersidekap di hadapanku adalah aku.
“Tapi sedang apa aku disitu? Melakukan suatu ritual? Rasanya aku belum pernah tahu ritual semacam itu.”
Saat aku masih dibelenggu keheranan, mendadak sosok aku yang berselimut cahaya putih itu lenyap tanpa meninggalkan bekas. Bersamaan dengan itu lenyap pula semua yang mengelilingiku, hingga kedua mataku terbuka.
“Oh, ternyata cuma mimpi.”
Aku menarik napas beberapa kali. Rupanya aku baru saja tertidur pulas sambil duduk di sebuah kursi kecil. Di hadapanku kini tampak nenek yang terbaring di ruang rawat inap sebuah rumah sakit kota Surabaya. Kulihat jam dinding.
“Setengah tiga,” sebutku lirih seolah takut akan membangunkan nenek dari lelapnya.
Malam itu adalah malam ketiga aku menunggui nenek di rumah sakit. Sebuah rutinitas yang memberi pengalaman baru meski aku harus kehilangan pekerjaan di Malang. Aku mulai terbiasa menyuapi nenek saat jam makan dan mengambilkan pispot saat beliau buang air kecil.
Waktu terus merayap. Aku sudah tak kuasa memejamkan mata lagi. Rasa kantu telah terusir oleh tidurku yang berhias mimpi. Namun aku berusaha mengabaikannya. Aku menganggap semua itu tak lebih dari bunga tidur belaka.
Tetapi perkiraanku keliru. Mimpi yang sama datang lagi pada dua malam berikutnya. Cahaya putih beserta sosok aku yang sedang melakukan sebuah ritual nan tak pernah kukenal.
“Ada apa gerangan ini Tuhan? Apakah ini pertanda aku sudah semakin dekat dengan nur yang kuidam-idamkan?” pikirku mencoba menafsir. Mimpi tiga malam berturut-turut itu tak pelak membuatku merenungi perjalanan hidupku sendiri, sejak menjalani masa kecil hingga remaja di Bekasi, lalu pindah ke Surabaya untuk kuliah sampai akhirnya diwisuda, pindah ke Malang untuk mengabdi sebagai seorang guru, dan akhirnya kembali lagi ke Surabaya.
Aku tercenung. Rasa takut berbaur dengan penasaran mulai menggeranyangi kalbuku. Keinginanku untuk menemukan nur di alam nyata tak bisa dibendung lagi. Meski demikian, kusimpan semuanya dengan rapi di dalam hati. Tak seorangpun tahu, termasuk orang-orang terdekatku.
Setelah nenek sembuh, mulailah kujalankan sebuah misi rahasia, mencari nur. Mulanya, aku mencoba mencari di dalam lembaran-lembaran buku yang kubeli. Dari semua yang kubaca itulah, aku benar-benar merasakan cemerlangnya pancaran nur mulai menyusup ke setiap sudut nuraniku. Sekarang aku tak lagi bermimpi.
Puncak pencarianku terhadap nur yang tak lain adalah cahaya petunjuk dari Sang Maha Benar, tibalah jua. Pada suatu saat, menjelang fajar tiba, aku hendak keluar dengan sepeda motorku, berniat mencari makan. Sedetik setelah mesin motor kunyalakan, sayup-sayup terdengar kumandang azan. Entahlah, aku merasakan seperti ada kekuatan dahsyat yang mendorongku untuk mematikan mesin motor, lalu kudengarkan dengan khidmat azan yang berkumandang. Aku merasakan hatiku bergetar hebat, meski aku sama sekali tak tahu apa arti kalimat-kalimat azan yang terdengar di kedua telingaku. Ah, sepertinya kini nur itu sudah tidak lagi hanya memasuki jiwaku, namun juga menjadi kepompong yang membungkus ragaku dan memusnahkan segala raguku.
Tekad untuk berpindah haluan tak lagi bisa ditahan meski risiko terburuk sudah membayang. Ditemani dua sahabatku dan dibimbing seorang ustadz, aku mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda persaksianku bahwa Tiada Illah selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah.
Hatiku kini merasa damai dan lega. Proses metamorfosis yang kujalani kini telah tuntas. Aku kini menjelma menjadi aku yang baru, dengan landasan baru, dengan haluan baru, dan dengan prinsip hidup dan ajaran yang baru.
Usai resmi menyandang predikat sebagai mualaf dan melepas huruf Y di depan nama lahirku, persoalan berat mulai menghadang. Bermaksud hendak memberikan pengakuan kepada orangtuaku mengenai hijrah yang kujalani, murka merekalah yang malah kutelan mentah-mentah.
“Tak tahu diri. Pengkhianat!” itulah ucapan ayah yang masih melekat di ingatanku seiring dengan tamparan tangannya yang sempat mendarat.  Cap sebagai pengkhianat keluarga besar harus kuterima dengan sabar. Aku bergeming tanpa mengaduh, tanpa mengeluh.
Ah, mungkin seperti ini pulalah cobaan yang dialami dua sahabat Rasul, Sa’ad Bin Abi Waqash dan Mus’ab Bin Umair. Meski begitu, aku memilih untuk tetap tegak berdiri dengan keyakinanku. Tak ada rasa gentar sedikitpun. Sebaliknya, aku tetap bersyukur dengan diriku yang sekarang dan terus membangun sandaran vertikal, berdoa agar Allah berkenan juga memancarkan nur kedalam hati mereka yang dikuasai murka dan memusuhiku.
“Duh Gusti Allah, hamba mohon, teguhkan iman hamba, pancarkan cahaya petunjukMu ke dalam hati ayah dan ibu hamba, bukakan pintu hati mereka agar sanggup menerima hidayahMu.”
***
Ramadhan 2006 tinggal menyisakan 10 hari penghabisan. Usai menunaikan ibadah shalat Isya’ dan tarawih, aku dikejutkan oleh sebuah dering telepon yang ternyata dari ibuku. Dengan tenang dan tetap bersikap hormat, aku berbicara dengan ibuku. Dan saat itulah aku mendapat kejutan yang sungguh tidak kusangka-sangka. Akhirnya nur itu telah terpancar jua kepada ayah ibuku.
“Ibu dan ayahmu telah hijrah mengikuti jejakmu Pras,” inilah inti pembicaraan ibu kepadaku. Sebuah kalimat yang mampu mengunggah rasa bahagia yang tiada mampu kudeskripsikan dengan rangkaian kata.
“Allahu Akbar! Aku bersujud syukur dengan linangan air mata bahagia. Puji syukurku hamba haturkan ke hadiratMu Yaa Rabbi. Engkau telah runtuhkan sekat hati ayah ibuku hingga akhirnya bisa merasakan betapa cemerlangnya cahayaMu, sebagaimana Engkau pancarkan nur itu kepadaku. Sungguh Maha Indah Engkau Yaa Allah.”  

*Cerpen ini terilhami dari kisah nyata perjalanan spiritual seorang sahabat

Komentar