Boom... Boom... Boom...


Daya ledaknya boom ini boleh dibilang sebanding dengan bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki. Bedanya, boom yang ini tidak menghancurkan fisik maupun psikologis. Boom ini meruntuhkan kebekuan dan menghentak kesadaran siapapun yang  terkena ledakannya. Itulah “Boom Literasi”. Sebuah buku yang dibuat bukan untuk mengundang kehadiran Tim Gegana, namun berupaya untuk merespon terjadinya tragedi nol buku yang mendera bangsa Indonesia.
Melalui buku “Boom Literasi” inilah saya menjadi tahu bahwa sesungguhnya bangsa Indonesia yang telah berusia 70 tahun sejak diproklamirkan kemerdekannya ini justru semakin bergerak mundur. Bangsa Indonesia semakin tidak kompetitif dalam segala sektor, terutama pemikiran dan peradaban.
Mengapa realita menyedihkan itu bisa terjadi? Apakah dunia pendidikan di negeri ini tidak lagi menghadirkan kecerdasan?
Melalui buku “Boom Literasi” inilah saya menemukan jawaban bahwa bangsa Indonesia mempunyai persoalan sangat elementer yaitu hilangnya budaya membaca serta menulis. Adanya persoalan ini telah dibuktikan secara ilmiah melalui Program Penilaian Pelajar Internasional (Program for International Student Assessment atau PISA) yang setiap 3 tahunnya selalu konsisten menempatkan pendidikan Indonesia dalam daftar 3 terbawah. Salah satu yang dinilai melalui program tersebut adalah kecakapan membaca. Penilaian tersebut memperkuat analisis budayawan Taufik Ismail yang kemudian memunculkan istilah “Tragedi Nol Buku” sebagai simbol terjadinya penelantaran terhadap kewajiban membaca buku, khususnya sastra, di sekolah-sekolah Indonesia.
Kecerdasan macam apa yang bisa diharapkan kemunculannya jika sebuah bangsa tidak lagi mempunyai budaya baca tulis? Peradaban model apa yang diinginkan akan dapat terbangun megah jika membaca dan menulis telah didegradasikan statusnya dari kewajiban menjadi sekadar anjuran? Padahal sejarah peradaban bangsa-bangsa sedunia sudah memberikan pelajaran bahwa mereka bisa menjadi maju setelah adanya kebangkitan ilmu melalui budaya literasi. Kejahiliahan bangsa Arab runtuh oleh perjuangan Rasulullah Muhammad beserta para sahabatnya bukan diawali oleh perintah shalat, zakat, puasa, dan juga haji. Tetapi justru diawali oleh perintah Iqra’ Bismirabbikalladzi Khalaq (Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan). Bangsa Indonesia pun bisa  berkebangkian nasional karena dimulai dengan kebangkitan tradisi keilmuan pasca penerapan politik etis. Lalu mengapa sekarang bangsa Indonesia malah meninggalkan budaya pencerdasan tersebut?
Jika bom atom Hiroshima dan Nagasaki dapat membuat Jepang bangkit menjadi negara maju dalam tempo tidak terlalu lama, mampukah “Boom Literasi” membangkitkan bangsa Indonesia dari keterpurukan panjangnya? Yang jelas, “Boom Literasi” telah membangunkan kesadaran saya dari keterlenaannya, bahwa perjuangan membangkitkan kembali budaya membaca dan menulis, masih jauh dari titik akhir.






Komentar

  1. Tradisi baca buku belakangan ini memang mengalami kemunduran. Tapi kita sebagai seorang blogger sejati bisa mengalihkan mereka membaca tulisan di internet. Caranya adalah dengan membahas apa yang mereka sukai di internet.

    BalasHapus
  2. ya sob membaca buku memang membosankan apalagi jika yang di baca tidak begitu menarik

    BalasHapus

Posting Komentar