Sepakbola Nasional Sekadar Hingar Bingar?


Perhelatan Piala Presiden 2015 telah usai dengan menghadirkan Persib Bandung sebagai kampiun usai mengalahkan Sriwijaya FC di grand final yang digelar di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Dengan demikian, Persib sukses “menyatukan” dua kubu yang berseteru, PSSI dan Menpora” di dalam lemari trofi mereka karena Persib juga menjadi juara ISL musim terakhir. Kini, kancah sepakbola nasional pasca dibekukannya PSSI oleh Menpora diramaikan dengan perhelatan turnamen Piala Jendral Sudirman.
Lalu bagaimana nasib sepakbola nasional selanjutnya? Sepertinya pemerintah telah banyak belajar dari PSSI yang dibekukannya, bahwa tujuan pengelolaan sepakbola Indonesia tak lebih dari sekadar mengisi kocek pemain dan official agar dapurnya tetap ngebul, memuaskan nafsu kelompok-kelompok supporter fanatik yang cita-citanya juga sebatas menikmati hiburan sekaligus euforia kemenangan klub kesayangannya, dan memberi ruang untuk mereka yang tidak suka sepakbola, minim pengetahuan sepakbola, namun sangat menggemari judi bola. Selain itu, meski tidak akan pernah diakui, tapi sudah bukan rahasia lagi bahwa pekerjaan mengelola sepakbola Indonesia mempunyai prospek cerah dalam perspektif keuangan dan juga politik jangka panjang.
Bagaimana dengan prestasi tim nasional Indonesia di kancah Internasional? Para perindu kejayaan tim nasional Indonesia sepertinya harus mengubur mimpinya untuk bisa menyaksikan tim merah putih berkalung medali emas seperti halnya capaian Ferryl Hattu cs besutan Anatoly Polosin di Sea Games 1991 dan Evan Dimas cs hasil didikan Indra Sjafrie di Piala AFF U-19 tahun 2013. Sekalipun PSSI akan dihidupkan lagi dengan diisi figur-figur yang sesuai selera penguasa, dan sanksi FIFA atas tim nasional Indonesia dicabut, tetap saja sulit memasang ekspektasi akan hadirnya prestasi emas yang diukir tim nasional.
Sepakbola Indonesia memang tidak di-setting untuk mencapai prestasi di level internasional. Untuk urusan yang satu ini, ternyata kubu Menpora setali tiga uang dengan PSSI. Tim transisi yang mencitrakan diri sebagai pahlawan sepakbola Indonesia ternyata juga tidak mempunyai plan dan blue print target yang mengarah kepada prestasi tim nasional. Sangat banyak persoalan fundamental yang tidak dibahas dan digarap dengan serius oleh stakeholders sepakbola Indonesia. Kubu-kubu berseteru lebih gemar melemparkan opini publik yang intinya merasa sebagai pihak yang paling kompeten dalam mengelola pertandingan sepakbola Indonesia.
Untuk bisa berprestasi di level internasional tentu tidak bisa melalui kerja instan. Kejayaan Jerman di Piala Dunia 2014 lalu merupakan hasil kerja keras belasan tahun pasca terpuruk di Piala Dunia 1998, gagal total di Piala Eropa 2000, sempat bangkit di Piala Dunia 2002 namun kembali kandas di Piala Eropa 2002. Namun berbekal dari kegagalan itu Jerman bangkit. DFB (federasi sepakbola Jerman) segera melakukan langkah sistemik, taktis, dan simultan untuk mengembalikan kejayaan Die Mannschaft. Diawali dengan menggelar workshop yang mengundang semua manajer klub, psikolog, bahkan ahli gizi. Dari sinilah dirumuskan sistem yang mencakup sistem regenerasi, sistem kompetisi, bahkan strategi permainan. Semua klub diharuskan mendirikan akademi sepakbola. Maka pantaslah kalau Jerman sekarang mampu mensejajarkan diri dengan Belanda, Brazil, dan Argentina yang produktif mengorbitkan bintang-bintang baru. Melalui kurikulum yang disusun oleh Juergen Klinsmann dan Joachim Loew, generasi baru Jerman “dipaksa” untuk menanggalkan cara bermain text book ala Der Panzer yang membosankan dan bertransformasi ke gaya bermain yang offensif dan agresif. Kerja keras Jerman menunjukkan hasil signifikan. Michael Ballack cs mampu merebut juara ketiga Piala Dunia 2006 serta runner up Piala Eropa 2008. Kesuksesan ini dilanjutkan di bawah komando kapten tim Philipp Lahm yang mempertahankan gelar juara ketiga di Piala Dunia 2010, menjadi semifinalis Piala Eropa 2012, hingga klimaksnya mampu bertahta sebagai juara Piala Dunia keempat kalinya di tahun 2014.   
Salah satu hal yang membuat Jerman bisa bangkit adalah banyaknya mantan-mantan pemainnya yang menjadi pengurus klub ataupun DFB. Kondisi ini sangat kontras dengan sepakbola Indonesia yang sangat didominasi dengan kalangan “buta sepakbola”. Belum lagi soal tak adanya pelatih sepakbola Indonesia yang berlisensi A Pro. Maka tidak aneh jika regenerasi yang dijalankan hanya sedikit melahirkan pemain-pemain muda berkualitas, persoalan non teknis seperti gizi dan mental pemain tidak dianggap penting, gaya bermain tanpa skema yang terkoordinasikan dengan rapi dan masih kerap menonjolkan kesalahan-kesalahan elementer masih juga diandalkan. Jadi, mau dibawa kemanakah sesungguhnya sepakbola Indonesia oleh kubu-kubu bertikai yang sama-sama tak mempunyai kompetensi  itu?


Komentar