Modernisasi gadget seakan menjadi sebilah belati
yang bisa bermanfaat tapi bisa pula menikam, khususnya bagi mereka yang masih
belia beserta kedua orang tuanya. Semua orang tua pasti mengharapkan putera-puterinya
tumbuh menjadi generasi cerdas, baik secara intelektual, emosional, maupun
spiritual. Di satu sisi, dengan diberikannya gadget seperti smartphone
kepada anak, selain untuk mempermudah komunikasi antara orang tua dengan anak
saat terpisah jarak, diharapkan akan dapat memperluas wawasan dan pertemanan
mereka dengan adanya kemudahan dalam berselancar di dunia maya. Namun di sisi
lain, ini menjadi kecemasan tersendiri bagi orang tua. Sudah bukan rahasia lagi
tentang adanya fitur-fitur smartphone
dan juga konten-konten internet yang berbahaya bagi penanaman akhlak mulia dan
pengembangan kecerdasan anak. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) bahkan
menengarai banyaknya fasilitas game
online yang dapat memacu tindak kekerasan. Belum lagi dengan banyaknya
beredar tayangan pornografi di internet, terutama jejaring sosial.
Realita inilah yang
sering membuat para orang tua berada pada situasi dilematis. Tidak membekali mereka
dengan smartphone dirasa sebagai opsi
yang tidak bijaksana dan tidak akan efektif. Selain membuat mereka tidak
mengenal kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, anak pasti akan mencari tahu
sendiri tentang smartphone dengan
segala fasilitasnya di luar pengawasan orang tua. Jika dibiarkan, ini tentu akan
lebih mengkhawatirkan karena anak tidak memiliki filter sehingga rentan
terhadap ekses-ekses negatif yang bisa dihadirkan oleh smartphone. Lantas, bagaimana seharusnya orang tua bersikap?
Inti dari semuanya
adalah perlunya peran besar dari orang tua. Tidak selayaknya orang tua memberi
kebebasan penuh, tanpa pembatasan dan pengawasan, kepada anak yang masih sangat
membutuhkan sentuhan dan perhatian mereka.
Agar smartphone benar-benar bisa memberikan manfaat
yang besar dan bukan malah memberikan kerugian terhadap anak, orang tua perlu
memberikan batasan-batasan yang jelas dan tegas. Batasan pertama adalah soal
alokasi dan durasi. Pembolehan anak menggunakan smartphone harus diupayakan agar tidak mengganggu waktu belajar,
beribadah, makan, dan istirahat anak. Selain itu, sebaiknya anak hanya
diizinkan menggunakan smartphone
tidak lebih dari 2 jam. Selain untuk menjaga kesehatan anak, terutama indera
penglihatan mereka, anak juga perlu didorong untuk bersosialisasi dengan teman
seusianya melalui permainan-permainan tradisional. Batasan kedua adalah konten.
Agar smartphone bisa menjadi sarana pembelajaran efektif untuk anak, orang tua
perlu melakukan screening terhadap
konten-konten yang nantinya akan diakses si anak. Dengan adanya penyaringan ini
akan dapat diminimalisasi peluang bagi anak untuk mengonsumsi konten-konten
tidak mendidik dan tidak bermanfaat. Sebaliknya, kepada anak akan disajikan
konten-konten “bergizi” yang dapat menstimulasi daya pikir dan kreativitas
serta membangun akhlak mereka.
Selain pembatasan,
orang tua juga perlu melakukan pendampingan terhadap anak dalam menggunakan smartphone. Pendampingan ini adalah
bentuk pendekatan persuasif sekaligus pengawasan orang tua terhadap anak.
Disini, orang tua diharapkan akan dapat menjalankan perannya dalam memberi
pengarahan dan bimbingan kepada anak. Tanpa berjalannya peran tersebut, anak
yang secara kodrati memiliki rasa ingin tahu yang tinggi bisa tidak terkendali
dalam menjelejahi konten atau men-download
aplikasi yang tidak sesuai kebutuhan anak atau bahkan bisa berdampak buruk
terhadap proses pendewasaan anak.
Lantas, smartphone apa yang paling memenuhi
kualifikasi sebagai media belajar dan aman untuk dikonsumsi anak? Untuk soal
ini, Acer Liquid Z320 bisa menjadi andalan. Boleh dipersepsikan bahwa Acer Liquid Z320 adalah smartphone untuk smartkids.
Mengapa? Karena hanya Acer Liquid Z320 yang dilengkapi dengan fitur Kids Center. Fitur yang
sudah pre-install ini dapat membatasi konten, aplikasi, dan akses data yang
tidak sesuai dengan usia anak. Kids center juga dilengkapi dengan parental control yang berguna untuk
memonitor anak selama melakukan browsing
di internet dan juga dapat mencegah anak untuk mengunduh konten-konten dewasa
atau membeli aplikasi baru tanpa izin. Tak hanya itu, Kids center juga memiliki
ribuan aplikasi edukatif yang sangat "bergizi" untuk membantu anak belajar dan
mengembangkan kreativitasnya. Untuk menghilangkan rasa penat sepulang sekolah,
sebelum tidur siang, anak juga bisa memanfaatkan aplikasi game dan video yang dijamin aman. Jika jenuh dengan konten
yang ada, anak bisa menikmati konten terbaru melalui fasilitas update content.
Jadi, sudah saatnya
orang tua menepikan kecemasan tentang penggunaan smartphone oleh anak mereka. Dengan
Acer Liquid Z320, anak senang, orang
tua pun tenang.
Komentar
Posting Komentar