Salah satu esensi
merdeka adalah bebas dari kejahiliahan, kegelapan, kebodohan, baik itu secara
ilmu pengetahuan (kognitif) maupun secara akhlak yang tercermin dalam bentuk
perilaku (afektif). Artinya, selama masih belum memenuhi kriteria kebebasan
dari semua itu, kemerdekaan bangsa Indonesia yang telah 72 kali diseremonialkan
di seluruh penjuru negeri dan dimeriahkan dengan berbagai kegiatan, barulah
sebatas kemerdekaan deklaratif, belum sampai ke level kemerdekaan substantif.
Lantas bagaimana dengan
tingkat kecerdasan bangsa Indonesia? Berdasarkan hasil Programme for
International Student Assessment (PISA) tahun 2015 yang dirilis Kementrian
Pendidikan dan Kebudayaan pada tanggal 6 Desember 2016, ada kenaikan 6 tingkat
dibanding hasil PISA 2012. Pada tahun 2012 itu, Indonesia menempati peringkat
ke 71 dari 72 negara yang disurvei. Peningkatan poin terbesar terjadi pada
kompetisi sains, dari 382 poin menjadi 403. Dalam kompetisi matematika juga ada
peningkatan dari 375 poin menjadi 386. Sayangnya, untuk kecakapan membaca,
pelajar Indonesia tidak mengalami peningkatan kualitas signifikan, dari 396
menjadi 397.
Adanya data ini
semestinya tidak membuat bangsa Indonesia larut dalam euforia. Apalagi dengan
adanya data bahwa bangsa Indonesia secara umum belum berbudaya literasi yang berarti masih menyandang predikat
sebagai bangsa illiterate (tidak
cakap membaca dan menulis). Padahal kecakapan membaca adalah kunci segala
bentuk kecerdasan, baik itu intelektual, emosional maupun spiritual.
Data ilmiah tersebut
tentu menjadi sebuah ironi bagi bangsa yang juga mengalami modernisasi
teknologi. Bahkan boleh dibilang bangsa Indonesia sedang ada dalam era
gadgetisme. Indikatornya sangat jelas. Gadget seperti smartphone dan laptop
sudah semakin mudah dibeli. Jaringan internet juga sangat mudah diperoleh dari
berbagai operator, baik itu berupa wifi maupun paket data.
Meski demikian,
teknologi tak ubahnya sebilah pisau. Dia bisa sangat bermanfaat tetapi bisa
juga mendatangkan mudarat. Modernisasi teknologi bisa menjadi sarana
mencerdaskan namun bisa juga membodohkan. Semua bergantung kepada faktor human behind technology.
Jika mengacu pada data
PISA 2015 sebagaimana disebutkan di atas, artinya penggunaan gadgetisme yang
melanda Indonesia belum terlalu berdampak positif dalam peningkatan kecakapan
literasi penggunanya. Pengguna gadget di Indonesia masih jauh lebih cakap dalam
berjejaring sosial di facebook. Ini bisa dibuktikan dengan data hasil riset We are Social dan Hootsuite yang menempatkan Indonesia sebagai pengguna facebook
teraktif nomor 4 sedunia.
Agar bangsa Indonesia
yang besar ini tidak lagi hanya mampu merayakan kemerdekaan deklaratif dan
menuju kepada kemerdekaan dari kejahiliahan, sudah saatnya dibangun kesadaran
akan pentingnya kecakapan literasi. Dan modernisasi teknologi harus dijadikan senjata
untuk meraih kemerdekaan tersebut. Indonesia akan benar-benar hebat jika
fasiitas searching seperti google
dimanfaatkan untuk memburu berbagai ilmu pengetahuan. Lalu pengguna gadget yang
terkoneksi internet bisa membuat website, gratisan ataupun berbayar. Dengan
membuat website, pembuatnya bisa memajang tulisan-tulisan inspiratif mencerahkan
karya sendiri.
Komentar
Posting Komentar