Karena Gadget, Aku Bukan Lagi Kaleng-Kaleng

 

Aku dan gadget ibarat pendekar Wiro Sableng dengan kapak maut naga geninya atau Arya Kamandanu dengan pedang naga puspanya. Tanpa gadget, hilanglah “kedigdayaanku” sebagai seorang “pendekar”.

Oh tidak! Aku bukan gamers yang biasa nongkrong numpang wifian di warung-warung kopi. Memang aku sering juga memanfaatkan fasilitas wifi di warkop. Bermodal uang empat ribu rupiah untuk sekadar beli segelas es cappucino, aku bisa wifian maksimal lima jam. Tetapi bukan nge-game karena aku bukan atlit e-sports. Aku adalah seorang yang mencari rezeki dengan cara menulis. Yes, I’m a writerpreneur.



Sebagai writerpreneur, aku bukan tipe penulis kamar yang menulis di microsoft word  kemudian disimpan dalam bentuk file untuk dibaca sendiri. Biasanya aku mempublikasikan dalam bentuk buku atau terpampang di akun blogspot. Bukan semata-mata untuk personal branding. Siapa tahu dari tulisan yang kubuat ada yang bisa dijadikan inspirasi oleh pembacanya. Ya mungkin saja gara-gara tulisanku tentang literasi, para pelajar di Indonesia bangkit gairah membacanya sehingga mengalami progress di Programme for International Student Assessment (PISA). Perlu diketahui, hasil survei PISA 2018 yang dirilis oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). menampilkan fakta bahwa skor kecakapan membaca pelajar Indonesia adalah 371. Hasil itu menempatkan pelajar Indonesia di peringkat ke 72 dari 77 negara yang disurvey. Jadi kecakapan membaca (literasi) pelajar Indonesia bukan hanya kalah jauh dari negara besar seperti Amerika Serikat, Cina ataupun Jepang, tetapi juga tertinggal dari negara seperti Estonia dan Belarusia. Haruskah kita cuek saja dengan potret buram anak-anak muda negeri ini?

Persentuhanku dengan dunia penulisan diawali sejak masih menjadi Ketua Badan Legislatif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Airlangga. Waktu itu salah satu harian besar yang identik dengan sosok Dahlan Iskan memiliki rubrik khusus mahasiswa aktivis bernama Prokon. Di situlah aku berunjuk gagasan melalui tulisan. Memang tidak selalu dimuat. Dari sekian belas tulisannya, ada empat yang dimuat. Artikel opiniku yang pertama kali dimuat berjudul “Terorisme Masih Sekadar Amunisi Politik.”

Setelah sempat vakum selama kurang lebih tujuh tahun, perjalananku berlanjut di tahun 2012. Hanya saja, sempat terjadi migrasi dari genre ilmiah ke fiksi. Satu buku kumpulan cerita pendek berhasil aku lahirkan, judulnya “Anomali.” Sekalipun berjenis fiksi, namun tidak bisa dinafikan bahwa setiap cerpen yang termuat di dalamnya menyuarakan pandanganku soal realita sosial, politik juga pendidikan. Tema besarnya adalah keprihatinan, kegelisahan, dan kelucuan elit-elit negeri ini. 

 Naluri yang tumbuh sejak menjadi orang kampus itu pada akhirnya membawaku kembali ke jalur non fiksi. Hingga akhirnya dalam kurun waktu 2016 – 2018, aku melahirkan dua buku kumpulan esai: Mana Jejak Kita dan Kun Muhibban (Jadilah Sang Pecinta).

Selain menjadi penulis buku, aku juga menuangkan pemikiran melalui media blogger. Ada beberapa konten yang telah kutulis disana. Semuanya tak terlepas dari berbagai fenomena yang terjadi di berbagai penjuru dunia, khususnya di Indonesia.

Akhir tahun 2019 menjadi permulaan karirku sebagai writerpreneur. Berkolaborasi dengan seorang penulis senior, aku terlibat sebagai penulis buku profil sebuah sekolah bernama SMPP Mojokerto. Menariknya, banyak alumni sekolah tersebut yang berkontribusi besar untuk masyarakat dan negara, baik itu sebagai guru, teknokrat, pebisnis, jurnalis, dan sebagainya. Sebut saja nama Johan Budi (eks juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi) sebagai salah satunya. Setelah sukses dengan buku profil SMPP Mojokerto, aku terlibat pula dalam penulisan buku Mandiri Enterpreneur Center, sebuah lembaga pendidikan wirausaha yang berada di bawah naungan Yayasan Yatim Mandiri.

Satu lagi pekerjaan yang kujalankan dengan memanfaatkan kapasitasku adalah menulis atas nama orang lain. Profesi ini lazim disebut dengan ghost writer atau penulis hantu. Bukan menulis cerita-cerita horor. Jadi aku menulis berdasarkan pesanan klien seolah-olah dialah penulisnya.

Dengan segala tugas itulah aku sangat membutuhkan keberadaan gadget, baik itu laptop maupun smartphone. Dengan kedua perangkat itulah aku berkreasi menuangkan isi otak dan hatiku dalam bentuk rangkaian aksara, kata, kalimat hingga tersusun menjadi paragraf demi paragaraf.

Kalau ditanya soal merek, aku tidak fanatik dengan brand tertentu. Kalaupun dua kali menggunakan laptop Axioo, bukan berarti fanatik dengan merek tersebut. Buatku yang penting harganya terjangkau budget (maksimal Rp 3.500.000) ada microsoft word untuk menuangkan tulisan dan google chrome.untuk mencari data, berita atau referensi buat memperkuat isi tulisan.

Untuk smartphone juga begitu. Bahkan aku sudah gonta ganti merek smartphone setiap harus beli baru karena yang lama rusak. Smartphone yang kucari tentu beda dengan kebutuhan fotografer. Jadi soal kualitas kamera tidak terlalu penting selama hasil pengambilan gambarnya tidak terlalu buram. Selain itu yang kupentingkan adalah memorinya bisa menampung aplikasi yang kuperlukan seperti platform novel, catatan dan WPS Office. Jadi, saat aku di jalan tanpa membawa laptop dan menemukan sebuah ide, aku tetap bisa langsung menuangkannya dalam bentuk tulisan.

Memang ada nggak enaknya sih berburu laptop atau smartphone kalau tidak punya brand favorit. Aku harus keliling dari satu konter ke konter lain, membanding-bandingkan harga, sampai akhirnya memutuskan untuk membeli gadget yang dipilih. 

Kalau saja dari dulu kenal carisinyal, tidak bakal secapek itu aku. Cukup duduk santai di depan laptop atau smartphone pinjaman, terus searching informasi gadget di carisinyal yang sesuai dengan budget dan kebutuhanku sebagai writerpreuner. Infonya komplit, akurat, paten lah pokoknya. Jadi sudah tidak zamannya lagi beli gadget masih harus keliling konter dulu. Capek kali itu.

Komentar

  1. terinspirasi saat masih kuliah ternyata bikin kita termotivasi buat menulis. terus menulis mas biar ada jejak digital yang baik.

    BalasHapus

Posting Komentar